Senin, 06 Juli 2015

Menentukan Kebutuhan Kalori Basal

Dalam kehidupan sehari hari, seringkali banyak orang tidak mengetahui kebutuhan energy yang ia butuhkan. Ketidaktahuan ini tentu saja menyebabkan seseorang tidak dapat menentukan pola makan yang sesuai dengan kebutuhan tubuhnnya, dan tentu saja bila konsumsi yang dilakukan melebihi kebutuhan maka akan dapat menyebabkan seseorang mengalami obesitas dan bila kekurangan dapat menyebabkan seseorang berpotensi terkena gizi buruk.
            Untuk dapat mengetahui seberapa besar kebutuhan energy yang tubuh kita perlukan maka kita dapat melakukan beberapa pengukuran, yakni dengan mengetahui tinggi badan, umur, dan aktivitas yang kita kerjakan. Mula-mula kita perlu menghitung berat badan ideal(BBI), caranya adalah bagi pria dengan tinggi <160cm dan wanita <150cm, BBI = (tinggi badan(cm)-100)x1kg, dan bagi mereka yang diatas nilai tersebut BBI=0.9x(tinggi badan(cm)-100)x1kg. Setelah mengetahui BBI kita akan mencari nilai kebutuhan kalori basal.

Bantuan Hidup Dasar

Bantuan hidup dasar merupakan pertolongan pertama yang diberikan kepada seseorang yang mengalami penurunan kesadaran. Keterampilan ini sebenarnya sangat penting untuk dikuasai semua orang karena kasus kegawatdaruratan dapat terjadi kapan saja. Bagi seorang dokter, keterampilan ini memiliki nilai kompetensi 4,yang berarti keterampilan ini merupakan hal wajib yang harus dikuasai oleh setiap dokter.

            Pada saat seseorang mengalami penurunan kesadaran secara tiba-tiba atau ketika kita melihat seseorang dalam keadaan tidak sadar, hal pertama yang harus kita lakukan adalah memperhatikan keadaan sekitar dan mengutamakan keselamatan pribadi. Lalu pastikan apakah pasien tersebut masih responsive atau tidak dengan memberikan rangsangan nyeri, dan bila pasien tidak responsive dan keadaan sekitar aman, segeralah meminta bantuan masyarakat sekitar atau menghubungi rumah sakit terdekat.

Selasa, 30 Juni 2015

Hemostasis

Dalam kehidupan sehari-hari tak jarang kita dapat terkena luka dan tentunya tubuh kita memerlukan suatu mekanisme untuk menghentikan perdarahan tersebut agar darah tidak terus menerus keluar. Secara umum hemostasis dapat dikatakan sebagai proses penghentian perdarahan akibat  cederanya pembuluh darah. Gangguan pada mekanisme hemostasis ini dapat menjadi masalah yang serius bila tidak ditangani dengan tepat.
            Dalam mekanisme hemostasis terdapat beberapa tahapan yakni vasokonstriksi pembuluh darah, agregasi trombosit, pembentukan jaringan fibrin, serta fibrinolisis. Saat terjadi pendarahan akibat cedera eksternal maka yang pertama terjadi adalah vasokonstriksi pembuluh darah. Hal ini terjadi akibat adanya serotonin. Agregasi trombosit bermula dari terjadinya adhesi antara trombosit dengan endotel, lalu trombosit yang telah berikatan akan menghasilkan kemoatraktan untuk mengikat lebih banyak lagi trombosit.

Interpretasi Darah Lengkap

Pemeriksaan darah lengkap adalah salah satu pemeriksaan yang tidak asing lagi. Pemeriksaan ini cukup banyak dilakukan dan berguna untuk mengevaluasi anemia, leukemia, reaksi inflamasi dan infeksi, karakteristik sel darah perifer, tingkat hidrasi dan dehidrasi, polisitemia, penyakit hemolitik, ataupun menentukan perlu atau tidaknya kemoterapi. Hal yang terpenting dari hasil laporan adalah kemampuan seseorang untuk dapat mengetahui apa yang terjadi bila nilai yang diperoleh normal ataupun abnormal.
            Pemeriksaan darah lengkap meliputi pemeriksaan eritrosit, leukosit, trombosit, MCV, MCH, MCHC, hemoglobin, hematokrit, serta Laju Endap Darah. Pada laporan hasil lab akan disediakan nilai-nilai normal dari masing-masing komponen. Pada pemeriksaan Hb bila nilainya rendah, dapat menandakan anemia, lupus eritematosus, leukemia , konsumsi antikanker, rifampisin, sulfanamid. Hb tinggi dapat terjadi pada kondisi luka bakar, gagal jantung, polisitemia, namun dapat juga merupakan proses fisiologis pada penduduk pegunungan.

Rumple Leed

Indonesia adalah negara tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi, dengan kondisi iklim seperti itu maka tidak mengherankan jika Indonesia merupakan tempat yang sesuai bagi habitat nyamuk, tak terkecuali nyamuk demam berdarah. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa penyakit DBD terdiri atas beberapa fase dan penanganan yang semakin lama dapat memperburuk keadaan, sedangkan penanganan dini akan semakin meningkatkan kemungkinan penyembuhan.  
            Salah satu pemeriksaan yang murah yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan rumple  leed. Perinsip utama pemeriksaan ini adalah untuk melihat ada tidaknya petekie atau bintik-bintik merah yang menjadi tanda adanya pendarahan oleh pembuluh kapiler. Umumnya bila kadar trombosit normal maka petekie tidak terjadi, namun karena pada DBD terjadi penurunan trombosit maka petekie bermanifestasi. Petekie sering muncul pada daerah lengan.

Punksi Vena

Pungsi vena merupakan salah satu keterampilan yang harus dikuasai bagi kalangan medis, hal ini dikarenakan punksi vena merupakan suatu keterampilan dalam proses pengambilan darah. Teknik yang tepat akan meminimalkan pengulangan pengambilan dan menurunkan risiko terjadinya hematom, hal ini karena jika dilakukan berulang-ulang pada pasien akan menimbulkan rasa tidak nyaman dan sakit.


            Dalam melakukan punksi vena ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yakni persiapan penderita, persiapan alat, pemilihan vena, dan melakukan teknik insersi dengan benar. Persiapan   penderita diperlukan agar pasien merasa nyaman dan tenang, disamping itu kita harus menunjukkan sikap percaya diri dan tidak lupa menjelaskan prosedur yang akan dilakukan, maksud dan tujuannya serta meminta inform consent dari pasien.

Hemophilia

Hemophilia adalah penyakit perdarahan akibat kekurangan factor pembekuan darah yang dapat diturunkan (herediter) secara sex linked recessive pada kromosom x.Namun baru-baru ini terdapat hemophilia akibat gangguan autosomal yakni hemophilia C. Karena hemophilia ini terkait kromosom x maka penderitanya lebih banyak berjenis kelamin laki-laki, dan perempuan sering hanya menjadi carier (membawa gen hemophilia tetapi tidak bermanifestasi klinis/tidak menimbulkan penyakit).

Hemophilia diklasifikasikan menjadi 3 jenis yakni hemophilia A (akibat defisiensi atau disfungsi factor pembekuan VIII), hemophilia B (akibat defisiensi atau disfungsi factor pembekuan IX), dan hemophilia C (akibat defisiensi atau disfungsi factor pembekuan XI). Namun hemophilia A dan B gangguan terjadi pada gonosom/kromosom sex sedangkan pada hemophilia C gangguan terjadi pada autosom/ kromosom tubuh, yakni pada kromosom 4q32q35.